Puisi Jerman telah lama menjadi pilar penting dalam khazanah sastra dunia. Dari era Romantisisme hingga masa pascaperang, para penyair Jerman telah menciptakan karya-karya yang tidak hanya mencerminkan jiwa zaman tetapi juga menyentuh universalitas pengalaman manusia. Berikut adalah sepuluh puisi paling terkenal di Jerman yang terus dikenang dan dipelajari, beserta cuplikan atau keseluruhan teksnya.
1. “Der Erlkönig” (Raja Elf) – Johann Wolfgang von Goethe (1782)
Goethe, raksasa sastra Jerman, menulis balada mengerikan ini pada tahun 1782. Puisi ini menggambarkan seorang anak yang sekarat dalam pelukan ayahnya sementara Raja Elf yang gaib membujuknya. Karya ini menjadi terkenal berkat adaptasi musik oleh Franz Schubert.
Cuplikan Puisi:
Wer reitet so spät durch Nacht und Wind?
Es ist der Vater mit seinem Kind;
Er hat den Knaben wohl in dem Arm,
Er fasst ihn sicher, er hält ihn warm.
Terjemahan:
Siapa yang berkuda begitu larut melintasi malam dan angin?
Itulah ayah dengan anaknya;
Dia memangku anak lelaki itu di lengannya,
Dia memegangnya erat, menjaganya tetap hangat.
2. “Das Lied von der Glocke” (Lagu Lonceng) – Friedrich Schiller (1799)
Ditulis tahun 1799, puisi alegoris ini menggunakan proses pengecoran lonceng sebagai metafora kehidupan manusia. Setiap tahap mencerminkan fase kehidupan.
Vivos voco. Mortuos plango. Fulgura frango.
Fest gemauert in der Erden
Steht die Form, aus Lehm gebrannt.
Heute muß die Glocke werden!
Frisch, Gesellen, seid zur Hand!
Von der Stirne heiß
Rinnen muß der Schweiß,
Soll das Werk den Meister loben;
Doch der Segen kommt von oben.
Zum Werke, das wir ernst bereiten,
Geziemt sich wohl ein ernstes Wort;
Wenn gute Reden sie begleiten,
Dann fließt die Arbeit munter fort.
So laßt uns jetzt mit Fleiß betrachten,
Was durch die schwache Kraft entspringt;
Den schlechten Mann muß man verachten,
Der nie bedacht, was er vollbringt.
Das ist’s ja, was den Menschen zieret,
Und dazu ward ihm der Verstand,
Daß er im innern Herzen spüret,
Was er erschafft mit seiner Hand.
Nehmet Holz vom Fichtenstamme,
Doch recht trocken laßt es sein,
Daß die eingepreßte Flamme
Schlage zu dem Schwalch hinein!
Kocht des Kupfers Brei,
Schnell das Zinn herbei!
Daß die zähe Glockenspeise
Fließe nach der rechten Weise!
Was in des Dammes tiefer Grube
Die Hand mit Feuers Hilfe baut,
Hoch auf des Turmes Glockenstube,
Da wird es zeugen laut,
Und was unten tief verborgen,
Das wird an’s Licht gebracht;
Es dient zu Lust und Sorgen,
Und hallt durch Nacht und Nacht.
Die Winde liegen im Kampfe,
Erschüttert wird der Bau,
Doch wir sind unerschlafft im Amte,
Und stehen treu zur Frau.
So recht! Der Kern ist’s, der’s entscheidet,
Der Meister muß ihn treffen.
Mit einem kräft’gen Streiche
Jetzt wird die Form zersprengen sein.
Freude dieser Stadt bedeute,
Friede sei ihr erst Geläute!
Terjemahan Puitik Bahasa Indonesia:
(Lagu Sang Lonceng)
Vivos voco. Mortuos plango. Fulgura frango.
(Yang hidup kupanggil. Yang mati kutangisi. Guntur kupatahkan.)
Kokoh tertanam di bumi
Berdiri cetakan, dari tanah liat terbakar.
Hari ini lonceng harus terwujud!
Segar, kawan-kawan, bersiaplah!
Dari dahi yang panas
Keringat harus mengalir,
Agar karya memuji sang empu;
Namun berkat turun dari atas.
Untuk karya yang kita siapkan dengan khidmat,
Patutlah sebuah kata yang sungguh-sungguh;
Bila kata-kata baik menyertainya,
Maka mengalirlah pekerjaan dengan riang.
Maka marilah kita dengan tekun merenung,
Apa yang lahir dari tenaga yang lemah;
Orang yang buruk harus kita hinakan,
Yang tak pernah pikirkan apa yang dia hasilkan.
Itulah yang menghiasi manusia,
Dan untuk itulah akal budi dikaruniakan,
Agar di dalam hati terdalam dirasakannya,
Apa yang dia ciptakan dengan tangannya.
Ambillah kayu dari batang pinus,
Tapi biarlah benar-benar kering,
Agar api yang terkurung
Menyambar ke saluran angin!
Didihkan adonan tembaga,
Cepat, timah pun disiapkan!
Agar adonan lonceng yang kenyal
Mengalir dengan cara yang benar!
Apa yang dalam lubang parit yang dalam
Dibangun tangan dengan bantuan api,
Nanti di ruang lonceng menara yang tinggi,
Ia akan bersaksi nyaring,
Dan apa yang tersembunyi di bawah,
Kan dibawa ke terang;
Ia melayani sukacita dan duka,
Dan bergema melalui malam dan malam.
Angin-angin bertarung beradu,
Goncanglah bangunan itu,
Tapi kami tak lelah dalam tugas,
Dan setia menemani nyonya.
Bagus! Intilah penentunya,
Sang empu harus mengenainya.
Dengan satu pukulan kuat
Kini cetakan akan pecah berderai.
Sukacita kota ini maknakanlah,
Damai menjadi dentang pertamanya!
3. “Wanderers Nachtlied” (Lagu Malam Pengembara) – Johann Wolfgang von Goethe (1780)
Goethe menulis puisi pendek nan sempurna ini pada tahun 1780. Hanya delapan baris yang menyampaikan kedamaian alam dan keheningan malam.
Teks Lengkap Puisi:
Über allen Gipfeln
Ist Ruh,
In allen Wipfeln
Spürest du
Kaum einen Hauch;
Die Vögelein schweigen im Walde.
Warte nur, balde
Ruhest du auch.
Terjemahan:
Di atas semua puncak
Ada ketenangan,
Di semua pucuk pepohonan
Kau rasakan
Hampir tidak ada hembusan;
Burung-burung kecil diam di hutan.
Tunggulah saja, sebentar lagi
Kau pun akan beristirahat.
4. “Die Loreley” – Heinrich Heine (1824)
Terbit tahun 1824, puisi ini berdasarkan legenda Rhein tentang seorang sirene yang menarik pelaut ke kematian mereka.
Bait Pertama:
Ich weiß nicht, was soll es bedeuten,
Daß ich so traurig bin;
Ein Märchen aus alten Zeiten,
Das kommt mir nicht aus dem Sinn.
Terjemahan:
Aku tidak tahu, apa artinya ini,
Bahwa aku begitu sedih;
Sebuah dongeng dari zaman kuno,
Itu tidak keluar dari pikiranku.
5. “Stufen” (Tahapan) – Hermann Hesse (1941)
Ditulis tahun 1941, puisi bijak ini merefleksikan filosofi hidup Hesse tentang perubahan dan pertumbuhan.
Cuplikan Terkenal:
Und jedem Anfang wohnt ein Zauber inne,
Der uns beschützt und der uns hilft, zu leben.
Terjemahan:
Dan dalam setiap awal terdapat keajaiban,
Yang melindungi kita dan membantu kita untuk hidup.
6. “Todesfuge” (Fugue Kematian) – Paul Celan (1945)
Ditulis tahun 1945, konon sebagai respons terhadap Holocaust, puisi ini adalah karya monumental sastra pascaperang.
Pembuka yang Mengguncang:
Schwarze Milch der Frühe wir trinken sie abends
wir trinken sie mittags und morgens wir trinken sie nachts
wir trinken und trinken
wir schaufeln ein Grab in den Lüften da liegt man nicht eng
Terjemahan:
Susu hitam fajar kita meminumnya saat malam
kita meminumnya siang dan pagi kita meminumnya malam
kita minum dan minum
kita menggali kubur di udara di sana orang tak terbaring sesak
7. “Weltende” (Akhir Dunia) – Else Lasker-Schüler (1902)
Ditulis tahun 1902, puisi ekspresionis ini mencerminkan kecemasan era modern awal.
Teks Lengkap:
Dem Bürger fliegt vom spitzen Kopf der Hut,
In allen Lüften hallt es wie Geschrei.
Dachdecker stürzen ab und gehn entzwei
Und an den Küsten – liest man – steigt die Flut.
Terjemahan:
Topi warga beterbangan dari kepala runcingnya,
Di semua angin bergema seperti teriakan.
Tukang atap terjatuh dan hancur berkeping
Dan di pesisir – terbaca – air pasang naik.
8. “Prometheus” – Johann Wolfgang von Goethe (1773)
Bagian dari drama tahun 1773, puisinya saja yang menjadi independen sebagai manifesto Sturm und Drang.
Cuplikan Pemberontakan:
Bedecke deinen Himmel, Zeus,
Mit Wolkendunst!
Und übe, dem Knaben gleich,
Der Disteln köpft,
An Eichen dich und Bergeshöhn!
Terjemahan:
Tutupi langitmu, Zeus,
Dengan kabut awan!
Dan berlatihlah, seperti anak lelaki,
Yang memangkas bunga thistle,
Pada pohon ek dan puncak gunung!
9. “Die Bürgschaft” (Janji) – Friedrich Schiller (1798)
Balada tahun 1798 ini mengisahkan persahabatan dan pengorbanan, berdasarkan legenda Yunani kuno.
Cuplikan Awal:
Zu Dionys, dem Tyrannen, schlich
Damon, den Dolch im Gewande;
Ihn schlugen die Häscher in Bande.
Terjemahan:
Pada Dionysius, sang tiran, menyelinap
Damon, dengan belati di jubahnya;
Ia dibelenggu oleh algojo-algojo.
10. “Der Panther” (Macan Tutul) – Rainer Maria Rilke (1902)
Ditulis tahun 1902 setelah Rilke mengunjungi kebun binatang Paris, puisi ini adalah masterpiece simbolis tentang penawanan.
Teks Lengkap (bait pertama):
Sein Blick ist vom Vorübergehn der Stäbe
so müd geworden, dass er nichts mehr hält.
Ihm ist, als ob es tausend Stäbe gäbe
und hinter tausend Stäben keine Welt.
Terjemahan:
Pandangannya karena lalu-lalang jeruji
menjadi begitu lelah, sehingga tak lagi menahan apa pun.
Baginya, seolah ada seribu jeruji
dan di balik seribu jeruji tak ada dunia.
Puisi-puisi ini tidak hanya terkenal karena keindahan bahasanya, tetapi juga karena kemampuannya menangkap pergulatan eksistensial, politik, dan filosofis masyarakat Jerman. Mereka telah membentuk identitas budaya Jerman dan terus menginspirasi generasi baru. Dari Goethe hingga Celan, setiap penyair memberikan suara pada zamannya, menciptakan karya yang melampaui batas waktu dan geografi, mengingatkan kita bahwa sastra adalah jendela ke kondisi manusia universal.
Be the first to comment on "Kutipan 10 Puisi Paling Terkenal di Jerman Sepanjang Masa"