Translation as A Means to Transfer Information, Knowledge, and Culture

By:
Dedy Setiawan

Conventionally, there are two different types of translation methods, namely, word for word and free translation. With the existence of translation software available in the market, this traditional approach to translation may have to be changed.

             In fact, for the sake of literary art, translation is more than just trying to make a text of a foreign language understood. It should be able to show how the beauty of the language in the text is transferred. If possible, the individual style of writer  (idiosyncrasy) is also sensed through the translated text. For general purposes, translation often fails to include the cultural aspect of the text.

             This paper will discuss different types of translation methods and how translation can possibly include the luxurious components that come along with the text.

Kata kunci: word for word translation, free translation, subject mastery, knowledge, culture, translation program software, target language, original language

Pendahuluan

Ada dua jenis penerjemahan yang telah kita kenal, yaitu ‘word for word translation’ dan ‘free translation’. Word for word translation menyangkut juga cara penerjemahan dari phrase ke phrase. Sementara dari clause ke clause, sulit untuk dikategorikan sebagai word for word translation, karena pada kenyataanya clause dari bahasa asli (original language) bisa berubah menjadi terjemahan kalimat dalam bahasa yang dituju (target language). Hal ini dilakukan semata-mata untuk lebih memudahkan pembaca teks terjemahan mengerti apa yang dibacanya.

Kedua perbedaan itu lebih ditajamkan lagi dengan merujuk pada apa yang dipaparkan oleh Riazi (2003) yang membagi cara penerjemahan kedalam tiga pendekatan, yaitu:

  • translation at the level of word (word for word translation)
  • translation at the level of sentence, and
  • conceptual translation

Dalam conceptual translation, yang mirip atau mungkin sama dengan free translation yang kita kenal sebelumnya, Riazi mengungkapkan kegunaanya dalam hal menerjemahkan suatu idiom atau proverb yang memang tidak ada padanannya dalam target language, seperti contoh proverb berikut ini: A stitch in time saves nine; Count one’s chicken before they are hatched; dan Keep your fingers crossed while I take the test. Beberapa contoh proverb dari Bahasa Indonesia yang tidak ada padanannya dalam Bahasa Inggris: Tong kosong nyaring bunyinya; Ada gula ada semut; dan Seperti pinang dibelah dua.

Dalam hal pendekatan lainnya (word for word translation dan translation at the level of sentence), penerjemahan bisa mungkin dilakukan dengan computer dengan bantuan software terjemahan yang diikuti dengan berbagai macam upaya sehingga apa yang diterjemahkan oleh computer tersebut bisa dimengerti. Namun, sejauh manakah computer dapat membantu kita dalam menerjemahkan?

Sekilas Tentang Hasil Kerja Software Terjemahan (Transtools)

Ada beberapa software yang dapat digunakan untuk menerjemahkan, diantaranya Star Project Management Sotware,  LogoMedia, iFingerTransRef, dan lain sebagainya. Lebih jauh lagi mengenai software diatas dan sejenisnya bisa dilihat pada: http://www.accurapid.com/

‘Transtools’ merupakan salah satu software yang mungkin paling canggih, mutakhir dan paling banyak digunakan dalam upaya menerjemahkan dokumen dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris dan sebaliknya. Berikut ini adalah contoh hasil terjemahan dengan menggunakan software transtool tersebut:

Hasil terjemahan 1[3]

Hasil Terjemahan Komputer dari B. Inggris ke B. Indonesia

Apa yang sesungguhnya adalah Mutu Sistem?

Suatu sistem mutu secara formal diuraikan [ketika;seperti] ‘ struktur organisasi, tanggung-jawab, prosedur, sumber daya dan proses untuk menerapkan manajemen mutu’. yang dikatakan Di (dalam) suatu jalan/cara lebih sederhana, suatu sistem mutu berhubungan dengan jalan/cara [adalah] suatu perusahaan bepergian berlari/menjalankan bisnis nya untuk mencapai gol nya ( [yang] secara efektif atau cara lainnya!). mutu Sistem akan pada umumnya didokumentasikan dan adalah sering didasarkan di sekitar suatu manual mutu yang menggambarkan dan berwujud sistem.

Banyak pabrikasi dan perusahaan [jasa;layanan] mempunyai sistem mutu mereka menjamin melawan terhadap suatu mengenali standard manajemen mutu, [yang] biasanya salah satu [dari] internasional [itu] ISO 9000 standard. Standard seperti (itu)  merebahkan diri unsur-unsur yang baik praktek bisnis [yang] umum [bahwa/yang] perusahaan harus menerapkan dan mengikuti dalam rangka memperoleh sertifikasi.

Hasil terjemahan 2[4]

Hasil Terjemahan Komputer dari B. Indonesia ke B. Inggris

Food and irrigate to represent the matter we which must pay attention to first of all to so that we can stay alive. we live [in] industrial era where food and irrigate in big supply in tidiness fulfilling health conditions. food and beverage the Tidiness now we can get the goodness in the form of food ready for eaten [by] and also easy food to be prepared / presented.

Amount [of] food and beverage which must be brought of course have to be adapted for [by] amount of estimate time we to require, inclusive of its transportation;journey, in [doing/conducting] the encampment. Its principle, of course, don’t less, but also don’t be abundant. If less, we will be given on to [by] problem of health and our body requirement; and if abundant, we will get the problem with its transportation. We better just getting just food and beverage  [by] needed it; don’t berfikir to bring the food or beverage which we think much of. At the (time) of camping, square meal have to be seen from facet nutrisi and its amount, non likely. Basically in place encampment, any food presented will be felt eaten delicious

Barangkali sulit bagi kita atau perlu waktu yang cukup banyak dan perlu berulang kali membaca agar kita benar-benar mengerti hasil terjemahan diatas. Bukan mustahil, kita harus bolak-balik kembali ke teks aslinya agar supaya kita benar-benar mengetahui apa yang dimaksud dari isi teks aslinya itu.

Ada beberapa kemungkinan yang membuat kita sulit memahami hasil terjemahan diatas. Pertama adalah struktur kalimat hasil terjemahan itu yang memang tidak standar; kedua bidang bahasan yang ilmiah (scientific); tingkat kesukaran bahasa asli yang digunakannya cukup tinggi (kompleks); dan banyaknya phrasa-phrasa dan compound words yang tidak lazim digunakan dalam bahasa sehari-hari.

Pada tingkat bahasa yang lebih rendah (dengan kalimat sederhana dan topik bahasan yang umum), hasil kerja transtool ini lebih baik. Berikut ini contohnya:

 Hasil terjemahan 3[5]

Hasil Terjemahan Komputer dari B. Indonesia ke B. Inggris.

  1. My name [is] Alida
  2. This [is] green book
  3. That desk [is] domed
  4. My computer [do] not have merk
  5. When I go to Jakarta
  6. Whether/What naughty you
  7. I [do] not go because rain
  8. If he/she come I will come also
  9. Hopefully rain [do] not tomorrow.
  10. At the discretion of padamu: will or [do] not

Meskipun hasil terjemahan komputer di atas bisa dimengerti, banyak diantaranya kata-kata dan struktur kalimat yang tidak standar; sehingga cukup banyak yang harus dilakukan supaya hasil terjemahan itu bisa lebih mudah dapat dimengerti dan enak dibaca.

Pada halaman berikut adalah hasil terjemahan yang menggunakan kalimat yang sedikit lebih kompleks dengan subjek materi yang agak umum. Bisa kita lihat disini banyak kata-kata dan struktur kalimat yang tidak lazim digunkan; namun secara umum apa yang dipesankan dalam terjemahan itu bisa ditangkap, apalagi kita mengetahui konteksnya.

Hasil terjemahan 4[6]

Hasil Terjemahan Komputer dari Bahasa Inggris ke B. Indonesia

Yth. Tuan:

Kita disenangkan untuk dibiarkan kamu mengetahui bahwa abstrak mu diterima untuk;menjadi diperkenalkan dalam  konggres mendatang  pada [atas] terjemahan September berikutnya 2003.

Catatan/kertas Yang penuh diharapkan untuk menjangkau [kita/kami] oleh Agustus 15, 2003.

Kita juga bermaksud mengetahui apa [yang]  multimedia bantuan  [yang] kamu akan memerlukan untuk presentasi ( Operator kaset, VCD/VHS, PAL/NTSC).

Kita  sedang menantikan akan jawaban mu.

Salam,

A D

Secreatriate Organisir

 

Memang, banyak yang perlu dilakukan agar hasil kerja transtool ini lebih berguna dan lebih bisa dipahami lagi. Diantaranya adalah:

  • Perlu dilakukan penerjemahan phrasa-phrasa dan compound words serta idiomatic expressions lainnya.
  • Perlu dicarikan/dibuat daftar padanan proverb dari kedua bahasa.
  • Perlu adanya pilihan ujaran-ujaran terjemahan untuk kata-kata yang memiliki lebih dari satu arti, seperti halnya kata-kata round, chair, can, time, dsb.
  • Perlu diantisipasi struktur kalimat yang tidak ada padanannya di antara kedua bahasa, seperti halnya subjunctive, conditional, dan lain sebagainya.

Ini adalah pekerjaan yang sangat besar dan berkesinambungan, karena jumlah compund words, dan idiomatic expressions yang hampir tak terbatas, dan terus bertambah sesuai dengan sifat bahasa itu sendiri yang dinamis dan senantiasa mengikuti jaman. Begitu juga dengan kata-kata yang memiliki dua atau lebih makna.

Meskipun banyak yang harus dilakukan agar hasil kerja software ini bisa lebih berguna dalam menerjemahkan dokumen asing, sedikitnya hasil kerja software ini bisa menggambarkan sedikit apa yang diungkapkan dalam bahasa aslinya itu pada para pembaca yang buta atau sedikit mengerti Bahasa Asli dari teks tersebut. Pertannyaan berikutnya adalah: apakah computer suatu saat dapat mengambil alih pekerjaan translator?

Keterampilan dan Pengetahuan Yang harus Dimiliki Oleh Penerjemah

Semua orang pasti berpendapat bahwa untuk menjadi translator yang handal diperlukan tidak hanya penguasan dua bahasa, yaitu bahasa asli dan bahasa target, tapi juga pengetahuan yang melatarbelakangi teks yang diterjemahkan.

Jauh sebelumnya di Negeri China pada tahun 1894, seorang theorist penerjemah M Jianzhong menyebut tiga persyaratan utama untuk menjadi penerjemah yang baik (Diambil dari Zhoung, W., 2003).

(1) A translator should have a good mastery of the two languages. He is required to know the differences and similarities between the two languages.
(2) A translator should have a full understanding of the meaning, style and spirit of the source text and transfer them exactly into the target language.
(3) There should be no discrepancy between the source text and the target text. The target text is required to be identical with the source text.

Penguasaan bahasa yang dimaksud diatas mencakup diantaranya berbagai macam aspek seperti halnya tata bahasa, gaya bahasa, kosa kata, dan perbedaan di antara kedua bahasa tersebut. Sedangkan pengetahuan yang melatarbelakangi teks mencakup, diantaranya, adalah subject mastery, budaya, dan lain sebagainya.

Karamanian (2001) menyatakan bahwa ‘Translation, involving the transposition of thoughts expressed in one language by one social group into the appropriate expression of another group, entails a process of cultural de-coding, re-coding and en-coding.’ Dari pernyataan ini kita mengetahui bahwa peran budaya dalam penerjemahan sangatlah penting.

Penguasaan subject dari teks yang diterjemahkan sudah merupakan hal yang tak bisa dibantah lagi. Dalam beberapa hal, penguasaan subjek mejadi prioritas utama ‘Subject specialization is the first’, demikian penuturan seorang ahli penerjemah Chris Durban pada suatu seminar mengenai penerjemahan di internet (Round Table, 2003). Disitu juga terungkap pentingnya program postgraduate degree (S2) dalam bidang penerjemahan, dimana bachelor (undergraduate) degree (S1) dari candidate master tersebut adalah bidang penerjemahan yang akan digarapnya di kemudian hari.

Latar belakang teks tidak hanya meliputi budaya dan penguasaan subjek apabila teks yang akan diterjemahkan mencakup kaidah-kaidah keindahan seperti halnya literary text. Seorang pemerjemah juga harus memiliki pengetahuan dan sense of esthetics untuk supaya hasil penerjemahannya memiliki cita rasa, bahkan kalau perlu menggambarkan gaya bahasa dari penulis aslinya.

Gagasan bahwa computer dapat menggantikan tugas seorang translator ibarat wacana robot dalam film atau novel science fiction. Dalam beberapa hal memang bisa disamakan antara robot dengan computer. Teks yang diterjemahkan adalah input yang dimasukan kedalam computer sebagai robot; dan hasil terjemahan adalah output yang dikeluarkan dari robot penerjemah tersebut.

Untuk lebih merasakan bagaimana penerjemahan yang dilakukan oleh komputer terhadap satu hasil karya seni sastra, bisa dilihat pada hasil terjemahan berikut:

Hasil terjemahan 5[7]

HUESCA Hati [menyangkut] dunia yang tanpa [hati/jantung],

 Yth. [hati/jantung], pemikiran kamu

 Menjadi sakit pada sisi ku

 Bayang-Bayang yang dingin/kaku pandangan ku.

 

 Angin naik pada malam hari,

 Ingatkan musim gugur itu adalah dekat.

 Aku adalah ketakutan untuk hilang[kan kamu,

 Aku adalah takut akan ketakutan ku.

 

 Pada [atas] mil terakhir ke Huesca,

 Pagar terakhir untuk kebanggaan [kita/kami],

 Pikir dengan ramah, menyayangi, yang aku

 Rasakan kamu pada sisi ku.

 

 Dan jika nasib malang perlu meletakkan kekuatan ku

 Ke dalam kuburan yang [dangkal/picik].

 Semua yang baik [yang] kamu dapat;

 Jangan melupakan cinta ku.

 

Meskipun terasa nilai dan gambaran puisinya dalam hasil terjemahan di atas, tapi kita merasakan kekakuan dan kegersangan dari nilai seni yang diciptakannya. Bandingkan dengan terjemahan yang dibuat oleh seorang penyair Chairil Anwar yang memang telah diakui kepiawiannya.

 

 

HUESCA

Jiwa di dunia yang hilang jiwa

Jiwa sayang, kenangan padamu

Adalah derita di sisiku

 

Angin bangkit ketika senja,

Ngingatkan musim gugur akan tiba.

Aku cemas bisa kehilangan kau,

Aku cemas akan kecemasanku.

 

Di batu penghabisan ke Huesca,

Pagar penghabisan dari kebanggaan kita,

Kenanglah, sayang, dengan mesra

Kau Kubayangkan di sisiku ada.

 

Dan jika untung malang menghamparkan

Aku dalam kuburan dangkal.

Ingatlah sebisamu segala yang baik

Dan cintaku yang kekal.

(Diambil dari Jassin (1978)

Disini kita bisa merasakan keindahan dan kekuatan pilihan kata yang dibuat oleh penyair penerjemah, sehingga kesan puisi terjemahan diatas hilang, dan seolah puisi itu benar-benar asli ciptaan pengarang (penyair) yang menerjemahkannya. Memang, kelebihan seorang penyair dalam memilih kata adalah salah satu wujud yang menentukan nilairasa yang datang dari dayabunyi (Jassin, 1983). Nilairasa dan dayabunyi ini tidak dapat dimiliki oleh computer.

Lebih jauh lagi, apabila kita melihat pekerjaan translator sebagai ‘service job’ dimana seorang translator akan berusaha untuk memberikan pelayanan terbaiknya, pekerjaan translator akan lebih dari sekedar penerjemahan (translation), tapi penulisan kembali (re-writing) dalam bahasa lain (target language). Ini mungkin bisa terjadi, khususnya apabila bahasa asli merupakan bahasa yang dianggap ‘poor’, seperti disinyalir oleh seorang ahli translator Chris Durban (Roundtable, 2002).

Gagasan bahwa translation merupakan a form of rewriting juga dikemukakan oleh Aksoy (2001) yang menyitir pendapat Lefevere yang melihat translation as an act carried out under the influence of particular categories and norms constituent to systems in a society.

Untuk itulah writing skill merupakan isu yang mengemuka, disamping subject matter knowledge, dalam suatu diskusi panel mengenai translation di suatu seminar (lihat website Roundtable, 2002) sebagai suatu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang translator.

Mengingat semua prasyarat yang harus dimiliki oleh seorang penerjemah, bisa ditarik kesimpulan bahwa sampai saat ini wacana bahwa computer dapat mengambil alih pekerjaan translator hanyalah mimpi belaka. Kalaupun sampai disempurnakan, apa yang bisa dilakukan oleh computer dalam menerjemahkan suatu teks paling bisa mencapai 50%, selebihnya adalah tugas seorang professional translator untuk membuat hasil terjemahan tersebut lebih berbobot dengan mengikutsertakan budaya, penguasaan subjek, nilai estetika dan segala latar belakang yang berhubungan dengan teks yang diterjemahkan.

Disamping itu, language ambiguity yang terdiri dari lexical ambiguity (ambiguity pada level kata dan phrase) dan structural ambiguity (ambiguity pada level kalimat), kerap ada dan sudah menjadi ‘fakta’ dalam penggunaan bahasa (Quiroga-Clare, 2002). Apakah computer bisa mengatasi kedua macam ambiguity itu?

Kecuali apabila kita mengakui ‘variasi bahasa komputer’ (sehingga nantinya ada varietas bahasa (language variety) komputer Indonesia, Inggris, Jerman, dsb), yang notabene akan merupakan bahasa asing tersendiri bagi sementara orang, mimpi itu mungkin bisa jadi kenyataan.

Aspek Budaya Pada Penerjemahan Dokumen Umum

Yang dimaksud dengan dokumen umum pada makalah ini adalah dokumen yang banyak digunakan masyarakat untuk kepentingan umum, seperti halnya ijazah (STTB), Akte Kelahiran, Surat Nikah, dan lain sebagainya.

Kalau kita lihat pada apa yang telah banyak dilakukan dalam penerjemahan dokumen umum seperti di atas, aspek budayanya kerap diabaikan. Padahal, budaya dapat menggambarkan keadaaan dan sifat (karakter) suatu bangsa. Berikut ini adalah contoh hasil terjemahan yang banyak dilakukan:
Hasil terjemahan 6

Certificate of Marriage
 

This is to certify that:

Mr. ……………………..…………

and

Ms. ……………………………….

Got married on ………………………. at …………………..

 

 Marriage councilor

(……………………)

Cara penerjemahan diatas tidaklah salah, namun tidak mengambarkan aspek budaya dari teks yang diterjemahkan. Kalau kita lihat naskah aslinya (ada di Appendiks), banyak hal yang membuat pembaca teks terjemahan (yang mungkin tidak tahu) tercengang melihat berbagai macam data aspek budaya dimasukan dalam document akta (sertifikat) nikah tersebut, seperti halnya data diri pengantin pria dan wanita, data wali nikah, bentuk maskawin, dan lain sebagainya.

Begitu halnya dengan penerjemahan dokumen yang serupa, seperti akta kelahiran, akta (sertifikat) tanah, dan dokumen resmi standar lainnya yang dikeluarkan oleh Pemerintah yang kerap menggambarkan ciri khas budaya dan bangsa Indonesia.  Dalam hal ini, dokumen semacam ini sebaiknya diterjemahkan apa adanya. Kalaupun suatu saat Pemerintah (atau Biro Penerjemahan) hendak membuat suatu standar format penerjemahan resmi terhadap dokumen semacam ini, data-data yang menggambarkan budaya dan bangsa Indonesia jangan sampai dihilangkan.

Kesimpulan

Penerjemahan merupakan upaya untuk mentransfer informasi yang diungkapkan dengan satu bahasa ke bahasa lain. Tujuan utama dari penerjemahan dan atau interpretasi (penerjemahan lisan), sama halnya dengan tulisan atau ujaran apapun, adalah memberikan gambaran dan penjelasan dari teks asli. Tetapi, suatu teks atau dokumen yang diterjemahkan kerap membeberkan lebih dari sekedar informasi yang dibutuhkan oleh yang bersangkutan (peminat teks terjemahan).

Seorang peminat (pembaca) terjemahan dari karya sastra akan senantiasa mengharapkan keindahan karya asli dalam teks yang diterjemahkan tersebut. Bahkan, gaya bahasa dari penulis aslinya itu, yang juga merupakan satu keindahan tersendiri, diharapkan terasa dalam karya terjemahan.

Begitu juga halnya dengan dokumen atau teks lain yang diterjemahkan. Indonesia adalah negara yang cukup besar dan sebagian budaya Indonesia tergambarkan dalam dokumen atau surat-surat resmi yang dikeluarkan oleh jawatan penyelenggara pemerintahan.

Seorang penerjemah tidak hanya harus memiliki penguasaan bahasa asli dan bahasa target, tapi harus memiliki pengetahuan latar belakang dari teks yang akan diterjemahkan. Latar belakang ini sangat dibutuhkan khususnya untuk penerjemahan yang sifatnya scientific dan teks sastra yang membutuhkan sense of esthetics tersendiri. Karena dalam beberapa kasus penerjemahan merupakan penulisan kembali (re-writing) suatu teks, penerjemah juga harus memiliki writing skill yang memadai.

Karena banyaknya pranyarat yang harus dimiliki oleh seorang penerjemah professional, penerjemahan yang dilakukan oleh komputer sampai saat ini jauh dari sempurna, sehingga banyak yang harus dilakukan untuk membuat suatu teks yang diterjemahkan dapat dimengerti. Meskipun demikian, bagaimana pun sempurnanya, hasil kerja komputer dalam menerjemahkan  teks akan senantiasa membutuhkan kerja seorang human translator yang professional supaya hasil terjemahan lebih bisa diterima dan sesuai dengan kaidah bahasa yang digunakan di masyarakat.

 

References

 

  • Aksoy, B. (2001) Translation as Rewriting, http://accurapid.com/journal/17turkey.htm
  • Boatner, M, T. and J. E. Gates (1975) A Dictionary of American Idioms, New York: Baron’s Educational Series Inc.
  • Jassin, H, B. (1978) Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, Jakarta: Gunung Agung.
  • Jassin, H, B. (1983) Tifa Penyair dan Daerahnya, Jakarta: Gunung Agung.
  • Karamanian, A, P. (2001) Translation and Culture: http://accurapid.com/journal/19culture2.htm
  • Quiroga-Clare (2002) Language Ambiguity: A Curse and a Blessing, http://accurapid.com/journal/23ambiguity.htm
  • Riazi, A. (2003) The Invisible in Translation, http://accurapid.com/journal/24structure.htm
  • Roundtable (2002) Translation Training & The Real World, http://accurapid.com/journal/23roundtable.htm
  • Zhoung, W (2003) An Overview of Translation in China,  http://accurapid.com/journal/24china.htm

Appendiks

Teks Asli 1

 

What is a Quality System?

A quality system is formally described as ‘the organization structure, responsibilities, procedures, processes and resources for implementing the management of quality’. Said in a simpler way, a quality system concerns the way an enterprise goes about running its business to achieve its goals (effectively or otherwise!). The quality system would usually be documented and is often based around a quality manual that defines and embodies the system.

 

Many manufacturing and service enterprises have their quality systems certified against a recognised quality management standard, commonly one of the international ISO 9000 standards. Such standards lay down generic elements of good business practice that the enterprise must implement and follow in order to gain certification.

 

 

 

Teks Asli 2

 

Makanan dan air merupakan hal yang harus kita perhatikan pertama-tama untuk supaya kita bisa hidup terus. Beruntunglah kita hidup di jaman industri dimana makanan dan air banyak tersedia dalam kemasan yang memenuhi persyaratan kesehatan. Makanan dan minuman kemasan tersebut sekarang bisa kita dapatkan baik dalam bentuk makanan yang sudah siap untuk dimakan maupun makanan yang mudah untuk disiapkan/disajikan.
 

Jumlah makanan dan minuman yang harus dibawa tentu saja harus disesuaikan dengan jumlah waktu perkiraan yang akan kita butuhkan, termasuk perjalanannya, dalam melakukan perkemahan tersebut. Prinsipnya, tentu saja, jangan sampai kurang, tapi juga jangan sampai berlebihan. Kalau kurang, kita akan dihadapkan pada masalah kesehatan dan kebutuhan tubuh kita; dan kalau berlebihan, kita akan mendapatkan masalah dengan pengangkutannya. Sebaiknya kita hanya membawa makanan dan minuman yang diperlukan saja; jangan berfikir untuk membawa makanan atau minuman yang kita senangi. Pada saat berkemah, makanan yang cukup harus dilihat dari segi nutrisi dan jumlahnya, bukan rasanya. Pada dasarnya di tempat perkemahan, makanan apapun yang disajikan akan terasa enak dimakan!

 

 

 


Teks Asli 3

 

1. Nama saya Alida

2. Ini buku hijau.

3. Meja itu bundar.

4. Komputer saya tidak bermerk.

5. Kapan saya pergi ke Jakarta?

6. Apakah kamu nakal?

7. Saya tidak pergi karena hujan.

8. Kalau dia datang saya akan datang juga.

9. Mudah-mudahan tidak hujan besok.

10. Terserah padamu: mau atau tidak.

 

Teks Asli 4

 

Dear Sir:

 

We are pleased to let you know that your abstract is accepted to be presented in the coming congress on translation next September 2003.

 

The full paper is expected to reach us by August 15, 2003.

 

We also would like to know what multimedia aids you will need for the presentation (Tape Player, VCD/VHS, PAL/NTSC).

 

We are looking forward to your reply.

 

 

Regards,

 

 

A D

Secreatriate Staff

 

(Diambil dari dokumen

Panitia Kongres Nasional Penerjemahan 2003)

 

 

 

 

Teks Asli 5

 

HUESCA

 

Heart of the heartless world,

Dear heart, the thought of you

Is the pain at my side

The shadow that chills my view.

 

The wind rises in the evening,

Reminds that autumn is near.

I am afraid to lose you,

I am afraid of my fear.

 

On the last mile to Huesca,

The last fence for our pride,

Think so kindly, dear, that I

Sense you at my side.

 

And if bad luck should lay my strength

Into the shallow grave.

Remember all the good you can;

Don’t forget my love.

 

(Diambil dari Jassin (1978)

 

 

 

 


[1] Disampaikan pada Kongres Nasional Penerjemahan di Universitas Sebelas Maret Tanggal 15-16 September 2003.

[2] Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bandung. E-mail address: dedysetiaone@yahoo.com

[3] Teks asli bisa dilihat pada Apendiks

[4] Teks asli bisa dilihat pada Apendiks

[5] Teks asli bisa dilihat pada Apendiks

[6] Teks asli bisa dilihat pada Apendiks

[7] Teks asli bisa dilihat pada Apendiks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact PersonHubungi WA kami