Perihal Kata Yang Tidak Mendapatkan Padanan Yang Tepat Dan Kesulitan Menyusun Sebuah Kamus Dwibahasa Prancis – Indonesia

Tito Wojowasito
Universitas Indonesia

Abstrak:

Keterbatasan ruang sebuah kamus serta keinginan penyusunnya untuk memuaskan seluruh pengguna kamus memberikan kesulitan tersendiri di dalam pembuatannya. Dari hasil pengalaman menyusun kamus dwibahasa Prancis-Indonesia dan dari beberapa pengamatan yang dilakukan, saya melihat banyaknya kata-kata entri dalam kamus maupun ungkapan-ungkapan yang ada di dalam artikelnya tidak mendapatkan padanan yang tepat dan sesuai dengan konteksnya di dalam bahasa Indonesia. Faktor-faktor tertentu yang menghambat di antaranya adalah: 1 adanya perbedaan budaya antara budaya Prancis dan budaya bahasa sasaran (Indonesia); 2 tidak tersedianya perangkat leksikal yang ‘memadai’ sehingga proses alih bahasa itu tidak bisa terlaksana dengan baik; 3 mengingat bahwa kamus merupakan sebuah wadah yang sangat terbatas, maka tidak semua kata yang mewakili makna-makna kontekstual bisa disajikan di dalam kamus; 4 karena bahasa itu berevolusi, maka sering terjadi padanan dalam kamus tidak sesuai lagi dengan jamannya.

Pada dasarnya seorang penyusun kamus harus dapat memberikan satu padanan yang tepat, sehingga padanan-padanan itu bisa langsung digunakan oleh pengguna kamus dengan baik. Cara yang mungkin bisa digunakan adalah dengan memberikan beberapa alternatif padanan, sehingga pengguna kamus dapat menentukan sendiri kata mana yang akan digunakan di dalam penerjemahannya. Apabila terdapat kata-kata bahasa sumber yang tidak mendapatkan padanannya di dalam bahasa sasaran, maka salah satu jalan keluar yang dilakukan oleh penyusun kamus adalah dengan menggunakan kata pinjaman, penerjemahan harafiah, terjemahan penyusun kamus sendiri dan padanan penjelasan.

Kesimpulan yang bisa diambil sementara adalah tidak ada satu kamuspun yang sempurna, yang bisa memuaskan seluruh penggunanya. Ketidaksempurnaan itu disebabkan oleh adanya keterbatasan di dalam penyusunan sebuah kamus. Keterbatasan itu di antaranya adalah keterbatasan ruang, keterbatasan budaya, keterbatasan perangkat leksikal, munculnya kata-kata atau istilah-istilah baru, dan akibatnya terdapat kata-kata yang tidak mendapatkan padanannya yang tepat dan sesuai di dalam kamus.

1. Pendahuluan.

Kamus[1] dan kegiatan penerjemahan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Pertama, pada saat kita sedang menerjemahkan suatu teks dan kita dihadapkan oleh satu kesulitan mendapatkan padanan, maka pertama kali yang kita lakukan adalah mencari padanan kata asing tersebut di dalam kamus. Kamus menjadi suatu alat untuk mendapatkan padanan dari kata bahasa sumber yang kita cari. Seringkali pula kita harus menggunakan beberapa kamus apabila kata-kata yang kita cari padanannya tidak kita dapatkan dalam kamus tersebut atau padanan kata di dalam kamus tersebut kita anggap tidak sesuai dengan teks yang sedang kita terjemahkan tersebut. Terlebih lagi apabila kata-kata yang kita cari itu berkaitan erat dengan istilah-istilah khusus pada bidang-bidang tertentu. Penggunaan beberapa kamus ini sering terjadi karena penerjemah berusaha untuk mendapatkan padanan yang tepat agar hasil terjemahannya baik. Kedua, penyusunan sebuah kamus itu juga merupakan suatu kegiatan penerjemahan. Suatu kegiatan untuk mendapatkan padanan yang memiliki makna yang sama seperti makna yang terdapat pada kata bahasa sumbernya. Seorang penyusun kamus selalu berusaha agar padanan-padanan yang disajikan di dalam kamusnya dapat memenuhi kebutuhan penggunanya, dan dapat digunakan dalam kegiatan penerjemahan mereka. Penyusun kamus ibaratnya sebagai seorang penyedia kata padanan dimana dia harus siap menyajikan semua kata-kata padanan yang diminta atau dibutuhkan oleh pelanggannya. Seandainya padanan-padanan yang dibutuhkan oleh pengguna kamus itu tidak tersajikan dengan baik, dia harus bisa memberikan jalan keluar agar para pengguna kamus itu bisa mencari sendiri kata yang dibutuhkannya yang sesuai dengan teks yang sedang diterjemahkannya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam menerjemahkan, padanan-padanan yang didapatkan pada saat menerjemahkan suatu teks akan bisa memperkaya artikel suatu kamus[2]. Masalahnya, yang sekaligus menjadi tujuan utama penyusunan kamus, adalah bagaimana sebuah kamus itu bisa memuaskan para penggunanya, bisa menyajikan semua kata padanan yang dapat digunakan oleh penggunanya, bisa memberikan pelayanan yang maksimal bagi para pelanggannya, mengingat bahwa ada keterbatasan di dalam penyusunan sebuah kamus. Keterbatasan itu di antaranya adalah keterbatasan ruang, keterbatasan yang berkaitan dengan budaya, keterbatasan perangkat leksikal bahasa sasaran, munculnya kata-kata dan istilah-istilah baru, interjeksi dan ungkapan-ungkapan fatis, dan sebagainya. Keterbatasan-keterbatasan itu menjadikan kamus itu ‘tidak lengkap’. Berdasarkan pada anggapan bahwa seorang penyusun kamus adalah seseorang yang dianggap tahu segalanya, tulisan berikut ini memperlihatkan secara garis besar keterbatasan-keterbatasan yang sering dihadapi oleh penulis di dalam pengalamannya menyusun sebuah kamus dwibahasa Prancis-Indonesia.

 2. Keterbatasan ruang.

Kamus sangat dibatasi oleh ketersediaan ruang atau tempat. Terbatasnya ruang ini menyebabkan seorang penyusun kamus tidak dapat menyajikan seluruh entri, sub-entri maupun padanannya di dalam sebuah kamus, agar secara praktis kamus itu dapat memberikan efisiensi yang maksimal bagi para penggunanya[3]. Apabila entri tourisme pada kamus pariwisata bisa diikuti oleh sekitar 80 sub-entri: autocar de tourisme, avion de tourisme, bureau de tourisme, centre de tourisme, école de tourisme, expert de tourisme, faire du tourisme, grand tourisme, hôtel de tourisme, industrie du tourisme, office du tourisme, organisme de tourisme, pays de tourisme, professionnel du tourisme, résidence de tourisme, tourisme à courte distance, tourisme actif, tourisme aérien, tourisme à faible distance, tourisme à grande distance, tourisme à la campagne, tourisme à la ferme, tourisme à l’étranger, tourisme associatif, tourisme automobile, tourisme balnéaire, tourisme blanc, tourisme chez l’habitant, tourisme collectif, tourisme commercial, tourisme culturel, tourisme d’accueil, tourisme d’affaires, tourisme d’agrément, tourisme d’art, tourisme d’aventure, tourisme de congrès, tourisme de croisière, tourisme de loisirs, tourisme de luxe, tourisme de masse, tourisme de montagne, tourisme de passage, tourisme de plein air, tourisme de rencontre, tourisme d’escale, tourisme de santé, tourisme d’été, tourisme d’hiver, tourisme écologique, tourisme émetteur, tourisme en ligne, tourisme estival, tourisme ferroviaire, tourisme fluvial, tourisme gastronomique, tourisme hivernal, tourisme industriel, tourisme intérieur, tourisme international, tourisme interne, tourisme itinérant, tourisme marchand, tourisme militaire, tourisme national, tourisme pédestre, tourisme réceptif, tourisme religieux, tourisme rural, tourisme scolaire, tourisme sexuel, tourisme social, tourisme sous-marine, tourisme spatial, tourisme sportif, tourisme technique, tourisme thermal, tourisme urbain, tourisme vert, voiture de tourisme, maka, mengingat terbatasnya ruang, di dalam kamus umum sub-entri itu tidak semuanya bisa ditampilkan. Entri tourisme berpadanan hanya dengan kata pariwisata atau wisata. Dengan hanya satu padanan itu saja kita bisa mencari padanan-padanan lain yang berbentuk komposisi, misalnya tourisme culturel ‘wisata budaya’, tourisme religieux ‘wisata ziarah’, dan seterusnya, dengan mencari padanan culturel dan religieux pada entri kata tersebut.

Padanan penjelasan[4] sebaiknya harus dibatasi, terutama pada kamus-kamus yang berfungsi sebagai kamus aktif[5]. Kata tartar yang berarti ‘daging cincang mentah yang disajikan sebagai menu istimewa di restoran Prancis’ akan menyita banyak tempat di dalam kamus dan tidak efektif. Begitu pula kata bateau-mouche ‘kapal penumpang untuk pesiar di sungai Seine Paris'[6] tidak sekedar bisa dipadankan dengan kapal atau perahu saja. Kata itu memerlukan padanan berupa penjelasan. Kesulitan yang dihadapi oleh penyusun kamus adalah bagaimana mendapatkan padanan yang singkat dan tepat tanpa mengurangi makna yang terdapat di dalam kata bahasa sumbernya dan tanpa menyita ruang yang terlampau besar.

 3. Keterbatasan budaya.

Yang dimaksudkan dengan keterbatasan budaya di sini adalah ketidakmampuan mencari atau mendapatkan kata padanan di dalam bahasa sasaran yang dikarenakan oleh hambatan-hambatan budaya. Kata camembert di dalam bahasa Prancis mendapatkan padanan nama jenis keju[7]. Makna kata tersebut sebenarnya adalah ‘keju yang dibuat dari susu sapi, lembut, berbentuk bulat dan berasal dari daerah Normandi’. Masyarakat Prancis memiliki banyak sekali perbendaharaan kata yang berkaitan dengan fromage ‘keju’, di antaranya adalah cancoillotte, mimolette, emmenthal, gruyère, comté, roquefort, dsb. Dalam hal seperti ini seorang penyusun kamus sulit sekali memberikan padanan terjemahan yang tepat[8], karena kita tidak memiliki kata yang maknanya bisa mewakili semua kata-kata itu. Akibatnya semua jenis keju yang jumlahnya lebih dari 200 itu hanya bisa memiliki padanan keju, nama jenis keju, atau sej. keju saja di dalam kamus.

Agar lebih jelas, kata-kata yang berkaitan dengan budaya ini sering menggunakan padanan penjelasan atau padanan deskriptif. Dan bahkan sering pula kata-kata ini tidak mendapatkan padanannya di dalam bahasa sasaran atau dikatakan berpadanan nol[9]. Akibatnya seorang penerjemah terpaksa menggunakan kata atau istilah pinjaman dari bahasa sumber dengan memberikan penjelasan atau parafrase[10].

 4. Keterbatasan perangkat leksikal bahasa sasaran.

Keterbatasan perangkat leksikal juga menjadi penghalang untuk memperoleh padanan yang tepat. Kata perforateur, yang mengacu pada alat perkantoran dan berfungsi untuk melubangi kertas, sama sekali tidak mendapatkan padanan di dalam bahasa Indonesia dikarenakan tidak adanya perangkat leksikal yang dapat dijadikan padanan. Kata pengawin sebagai padanan dari kata agrafeuse tampak seperti dipaksakan, atau mungkin harus seringkali diperkenalkan dalam penggunaan sehari-hari agar kita terbiasa oleh kata itu. Tidak adanya padanan ini karena tidak tersedianya perangkat leksikal di dalam bahasa sasaran. Keterbatasan perangkat leksikal ini sering berkaitan dengan produk-produk teknologi yang dihasilkan oleh negara bahasa sumber.

 5. Munculnya kata-kata atau istilah baru.

Kata-kata seperti pelantang, memunggah, dan sebagainya., belum banyak ditemukan di dalam kamus-kamus yang ada sekarang. Demikian pula kata-kata seperti budidaya, pembudidayaan, nilai tambah, berhasilguna, tepat guna dan sebagainya, belum atau belum banyak ditemui sebagai padanan kata di dalam kamus dwibahasa. Ini menunjukkan bahwa bahasa itu sendiri selalu berkembang, dan kamus itu tidak mampu atau kurang bisa mengikuti perkembangan yang ada. Akibatnya seorang penerjemah mengambil pertimbangan sendiri untuk menggunakan kata-kata tersebut. Akan tetapi bagaimanapun juga kamus, sebagai tempat mencari padanan, diharapkan bisa mencatat semua perubahan-perubahan yang ada agar supaya kamus itu tetap bisa digunakan setiap saat sebagai alat acuan.

 6. Interjeksi dan ungkapan-ungkapan fatis.

Ungkapan-ungkapan fatis yang jumlahnya sekitar 180 di dalam bahasa Prancis tidak semuanya mendapatkan padanan di dalam bahasa Indonesia. Bentuk-bentuk tertentu yang digolongkan sebagai onomatope masih bisa mendapatkan padanannya di dalam bahasa Indonesia, misalnya brrr ‘tanda kedinginan’ yang berpadanan sama dengan brrr , chut ‘perintah untuk diam/ tidak bersuara’ berpadanan dengan ssst, berpadanan dengan he ‘memanggil atau menarik perhatian seorang’, allô  yang berpadanan dengan hallo dan berfungsi untuk mempertahankan suatu percakapan melalui telepon, dan sebagainya. Sebagian besar bentuk-bentuk interjeksi dan ungkapan fatis ini tidak mendapatkan padanan yang memadai karena perilaku dan sifat hubungan antar individu masing-masing pengguna bahasa tidak sama.

 7. Penutup.

Dengan segala keterbatasannya, kamus harus tetap hadir di dalam semua kegiatan penerjemahan, baik penerjemahan lisan maupun tulis; baik di dalam fungsinya sebagai kamus aktif maupun pasif; dan dengan segala keterbatasannya pula seorang penulis kamus harus mampu mencatat semua kata-kata yang ada di dalam kehidupan berbahasa ini, baik kata-kata yang berkaitan dengan budaya maupun kata-kata baru yang bermunculan, dan menyajikan padanan-padanan tepat dan memadai yang dapat membantu para penerjemah di dalam kegiatan penerjemahannya.

 

 Daftar Pustaka

 AL-KASIMI, Ali M. 1983. Linguistics and Bilingual Dictionaries. Leiden: E.J. Brill.

CATFORD, J.C. 1967. A Linguistic Theory of Translation. London: Oxford University Press.

DYRBERG, G dan J. TOURNAY. 1990. “Définitions des équivalents de traduction de termes économiques et juridiques sur la base de textes parallèles”, di dalam Cahiers de lexicologie, no. 56-57, hal. 261-274.

MOUNIN, Georges. 1960. Les problèmes théoriques de la traduction. Paris: Gallimard.

NEWMARK, Peter. 1988. A Textbook of Translation. Prenttice Hall International (UK) Ltd.

SVENSÉN, Bo. 1993. Practical Lexicography, Principles and Methodes of Dictionary-Making. Oxford: Oxford University Press.

WOJOWASITO, Tito. 2001. L’équivalence dans le dictionnaire bilingue français-indonésien. Tesis DEA, Université de la Sorbonne Nouvelle-Paris III.

ZGUSTA, Ladislav. 1971. “Manual of Lexicography”, Janua Linguarum, Serie major 39, Prague, Akademia, Publishing House of the Czechoslovak Academy of Sciences, Paris: The Hague.

 


CURRICULUM  VITAE

Nama : Tito W. WOJOWASITO

Tanggal dan tempat lahir : 3 Januari  1947 di  Surakarta (Jawa Tengah)

Status keluarga : Kawin (2 anak)

Pekerjaan : Dosen tetap FIB-Universitas Indonesia

Alamat : Rumah:

Jl . Lembah Aren 2/12; Kav. DKI Pondok Kelapa

JAKARTA 13450.

Tlp: (62-21) 864.55.28

Universitas tempat bekerja:

Program Studi Prancis,

FIB Universitas Indonesia, DEPOK 16424.

Tlp: (62-21) 786.82.85

PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN KERJA

  1. 1979 : Sarjana Sastra (S1) Universitas Indonesia.
  2. 2001 : DEA (S2) Université de la Sorbonne Nouvelle – Paris III.
  3. 1999-2001 : Dosen tamu di Faculté des Lettres, Langues, Arts et Sciences Humaines, Université de la Rochelle.

 PUBLIKASI

  • Tatabahasa Dasar Bahasa Prancis Kontemporer. Terjemahan. Jakarta 1989.
  • Kamus Populer Inggeris-Indonesia. (co-author). 1983.
  • Kamus Populer Indonesia-Inggeris. (co-author). 1983.
  • Kamus Lengkap Inggeris-Indonesia Indonesia-Inggeris. (co-author). 1983.
  • Kamus Umum Lengkap Inggris-Indonesia Indonesia Inggris. 1983.
  • Kamus Perdagangan Dwibahasa Prancis-Indonesia. 1996.
  • Kamus Prancis-Indonesia Pariwisata. 2002.

Dalam persiapan:

  • Kamus Indonesia-Prancis Pariwisata.
  • Kamus Umum Prancis-Indonesia.
  • Kamus Indonesia-Prancis.

 

 


[1] Kamus yang dimaksud di dalam tulisan ini selanjutnya adalah kamus dwibahasa, terutama kamus Prancis-Indonesia.

[2] Terjemahan atau kegiatan penerjemahan berbeda dengan padanan: padanan adalah kata atau ungkapan bahasa sasaran yang diterjemahkan dari bahasa sumber. Padanan bukan merupakan suatu proses, tetapi merupakan suatu hasil dari suatu proses penerjemahan. Hasil ini muncul dalam bahasa sasaran (Tito Wojowasito, 2001: 11). Terjemahan atau proses penerjemahan adalah proses substitusi teks dari suatu bahasa ke dalam bahasa yang lain (J.C. Catford, 1965: 1, Peter Newmark, 1988: 48).

[3] Harus dibedakan antara kamus dengan ensiklopedia.

[4] Terdapat dua jenis padanan di dalam kamus dwibahasa: padanan terjemahan atau padanan dan padanan penjelasan atau deskriptif (Ladislav Zgusta, 1971: 319; Ali M. Al-Kasimi, 1983: 60)

[5] Harus dibedakan antara kamus untuk penggunaan aktif, artinya kamus yang digunakan untuk memproduksi kata atau kalimat, dan kamus pasif, yang bertujuan hanya untuk memahami suatu teks (lihat Hans-Peter Kroman, 1990: 17-26).

[6] Winarsih Arifin dan Farida Soemargono, Kamus Perancis-Indonesia, 1991: 91.

[7] Ibid. hal. 132.

[8] Padanan tepat (…) dari dua bahasa yang berbeda tidak mungkin dilakukan (Georges Mounin, 1960:78).

[9] Padanan nol sering kita dapatkan pada kata-kata yang terikat erat dengan budaya, kehidupan sehari-hari, lembaga-lembaga pemerintahan, dsb (Peter Newmark, 1988: 121; Svensen Bo, 1993: 140).

[10] Dalam hal padanan nol, beberapa strategi yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan kata-kata pinjaman, penerjemahan harafiah, adaptasi, terjemahan yang diusulkan oleh penyusun kamus dan penjelasan  (c.f. Gunhild Dyrberg dan Joan Tournay, 1991: 270).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact PersonHubungi WA kami