Pendidikan Anak-Anak Kita

Oleh RHENALD KASALI

SETIAP memasuki tahun ajaran baru saya sering tidak bisa tidur lebih awal. Sering saya baru bisa tidur pukul 2-3 dini hari karena mendengarkan cerita-cerita menarik dari istri saya yang mengelola TK dan PAUD di beranda rumah kami.

Dia seperti tak henti-hentinya bercerita bagaimana anak-anak itu dia temukan dan dia bentuk. Dia mengirim ibu-ibu guru binaannya hingga ke pelosok-pelosok kampung sekitar, mengajak orang tua agar menyekolahkan anak-anaknya di sekolah itu. Selalu saja ada cerita yang menarik dan mengharukan.

Kalau Anda perhatikan, rendahnya angka partisipasi sekolah pada level pendidikan tinggi dan SMU bangsa ini lebih disebabkan oleh tidak dikirimnya anak-anak itu ke taman kanak-kanak yang bermutu oleh orang tua, yang mengakibatkan rapuhnya fondasi bangsa.

Istri saya membuat taman kanak-kanak, bukan universitas yang buat menghasilkan uang, meskipun suaminya profesor dan pasti gampang mencari calon mahasiswa. Sudah begitu, digratiskan pula. Teman-temannya suka menyatakan kami ini suami-istri yang sinting. Cari uang banyak-banyak bukan buat beli rumah di Pondok Indah, tetapi buat bikin PAUD di kampung, di Pondok Gede. Sudah begitu, duitnya ngga ada pula.

Kalau memakai teori ekonomi seperti yang saya pelajari, ini pun pasti tidak lulus ujian di UI. Gedungnya dibuat bagus, guru-gurunya banyak, satu guru untuk 8-10 murid. Setiap jalan-jalan atau besuk anak ke luar negeri, yang diborong hanyalah alat-alat edukasi dan buku cerita anak-anak. Padahal, anak-anaknya sudah duduk di bangku kuliah.

Tetapi, saya mau bilang kepada Anda, anak-anak itu butuh kita, butuh orang tua yang menaruh perhatian. Seperti kata Bill Gates, “Anak-anak adalah penyita waktu terbesar saya”.

Kisah Ali

Ali bukan nama sebenarnya. Beberapa waktu lalu dia diantar orang tuanya untuk masuk TK. Orang tuanya adalah pasangan muda yang bekerja keras. Ibunya guru yang mengajar di beberapa tempat. Sewaktu mengantarkan anaknya, dia mengatakan bekerja sangat keras mengumpulkan uang buat masa depan anak-anaknya. Tetapi, sewaktu datang, istri saya melihat anak ini susah diajak berdiri. Dia terlihat begitu cepat merosot ke bawah, mudah menangis, dan berteriak.

Istri saya segera menangkap sinyal.Dia pun mengobservasi anak ini beberapa hari, sampai akhirnya menemukan bahwa anak ini punya masalah dalam motorik kasarnya. Dia pun segera mengajak guru-guru untuk cepat menangani Ali. Anak ini sudah 5 tahun, namun secara motorik punya masalah masa depan.

Di Rumah Perubahan kami mempunyai pendapat lebih baik anak-anak gagal sekali dalam hidupnya daripada gagal selama-lamanya. Istri saya pun ingat kalimat itu. Dia pun memanggil orang tua dan memeriksa laporan-laporan perkembangan anak itu yang dikeluarkan sekolah sebelumnya. Semua tertulis begitu bagus, namun dia berpendapat lain. Dia lalu meminta catatan-catatan medik anak itu. Perlahan-lahan terungkap bahwa anak ini masuk kategori berkebutuhan khusus sehingga perlu ditangani dengan perhatian lebih. Orang tuanya menangis. Tetapi, suatu hal yang jelas adalah: banyak orang tua yang berpura-pura tidak tahu bahwa anaknya punya masalah.

Masalah itu bukan untuk ditutup-tutupi. Juga bukan untuk dijadikan bahan olok-olokan, melainkan sebagai alat untuk membentuk masa depan si anak. Setelah itu mereka sepakat untuk membangun kembali motorik kasarnya dari awal. Ini membongkar kembali fondasi yang dulu ditanam seadanya.

Dengan kesepakatan orang tua, Ali lalu dipindahkan pada kelas yang lebih rendah. Dia duduk di ‘PG’ (play group) meski usianya lebih tua daripada yang lain. Oleh istri saya dia diberi kompensasi untuk hanya bermain Sentra bahan-bahan alam. Dia mulai diajak belajar merobek kertas. Kalau Anda turut menyaksikannya dan melihat dengan hati, saya percaya Anda pasti akan menitikkan air mata.

Ali terlihat gembira. Mulutnya terbuka. Namun, seharusnya di usia segitu, Ali sudah harus bisa memotong kertas sambil melipat lurus. Ali merobeknya sambil berteriak. Ketika diberi titian di atas ‘batu’ yang memanjang, Ali terlihat lepas. Dia mulai belajar berdiri. Dia diberi dispensasi bermain tanpa alas kaki, berbeda dengan teman-temannya. Dia diajak bermain, berlari di atas rumput yang masih dibasahi embun pagi. Dia terlihat riang dan berteriak, kendati teman-temannya merasa aneh. Teman-teman Ali, dengan metode Sentra, sudah terbiasa diajak saling mendukung.

Dalam seminggu Ali terlihat mengalami “keterlepasan”. Seolah ada sesuatu yang menekan hidupnya. Dan, untuk membangun masa depan kita memang harus berani berubah dari hal-hal yang mendasar.

Anda tentu bisa bergabung dengan kitabisa.co.id untuk meminjamkan kepintaran Anda, untuk ikut melakukan perubahan. Sebab, di luar sana ada banyak anak berkebutuhan khusus yang perlu bantuan. Mereka kini sebagian sudah dewasa, sedang berpeluh keringat memasak minyak kayu putih di Pulau Buru, belajar di terminal, dan sebagainya. Sebab, perubahan itu memang butuh kolaborasi besar-besaran. Anak-anak kita pasti butuh kasih sayang kita, dan Anda pun pasti bisa.

Rhenald Kasali (@Rhenald_Kasali)
dimuat di Jawapos, 24 Juli 2013

One Response so far.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact PersonHubungi WA kami